BUKU 999
Pada zaman dahulu saat harimau masih merokok, ada seorang wanita tua yang menciptakan sebuah buku. Buku itu bisa mengabulkan permintaanmu. Tetapi permintaan itu akan dikabulkan jika kau memberikan salah satu bagian dari tubuhmu. Bisa jadi, daging, tulang, darah, organ tubuh...ataupun nyawamu...
Hanya orang syirik dan bodohlah yang memberikan nyawa mereka untuk satu permintaan. Sampul buku itu dibalut dengan kulit kuda yang halus, kertas kertasnya berasal dari pohon jati pilihan dan kuat. Jika kau membuka halaman 3 dan 13 akan ada nomor yang ditulis dengan darah hitam. Yaitu 999.
"Woi bengong aja. Lagi mikirin Cairys ya?", aku mendegus. Sebenarnya tujuan anak ini mengikuti aku satu hari ini apa sih? "Sebenernya mau kamu itu apa sih Yen-lo-wang? Jangan ngikutin deh. Plis. Udah kayak anak ayam tau gak?". Dia tertegun, menatapku sejenak lalu tertawa lebar. "Ah ayolah! Kamu gak seru nih! Aku kan suka sama kamu, Lilith . Gapapa dong kalo aku ngikutin kamu mulu? Takutnya kan ada apa apa!".
Aku, Lilithe Hcolom sedang menghadapi manusia menyebalkan yang pernah aku temui.Sudah satu bulan dia menyatakan perasaan padaku. Terkenal dengan sifatnya yang gila, dan seperti iblis. Arti namanya mungkin cocok dengan sifatnya, Yen-lo-Wang, penjaga neraka."Terserahlah. Aku gak peduli. Pokoknya jangan ikutin aku lagi!", aku berteriak seraya menampar tangannya yang sedari tadi ada diatas pundakku.
Setelah aku menampar tangan Yen, aku merasakan hawa dingin. Aku merasa ada yang menatapku. "Hei Yen, ada siapa lagi selain kita diruangan ini?". Yen menengok kekiri dan kanan. Matanya menyapu seluruh sudut gedung olahraga. "Gak ada apa apa kok. Ayolah jangan nakutin.". Dia mengatakan itu, tetapi matanya tidak menunjukkan rasa takut sama sekali, malah matanya menunjukkan bahwa dia seperti benar benar melihat sesuatu. Mata abu abunya sekilas menjadi tembus pandang saat melihat sekeliling ruangan.
"Bener gak ada?". Dia mengangguk, " Coba aja liat. Gak ada siapa siapa kok. Yuk pulang. Udah gelap lho. Aku anter aja ya? hehehe". Cih, dasar modus.Kami pun berjalan keluar gedung olahraga dan menguncinya. Halaman depan sekolah tampak sepi, rerumputan tampak basah. Sama sekali tidak ada angin berhembus. Tetapi, kenapa pohon itu bergoyang?
Aku berjalan ke arah pohon itu dengan pelan. Berusaha memahami apa yang salah dengan pohon tua itu. Saat kulihat ke belakang pohon, ada sekelebat bayangan bertanduk. Matanya yang merah bertemu dengan mata coklatku. Hanya dalam satu kedipan, bayangan hitam itu menghilang.
Tapi aku bisa melihatnya dengan jelas. Bayangan itu mempunyai tanduk panjang keatas. Jari jarinya ada 6. "Lith? Lilithe? Kamu kenapa?", suara Yen membuyarkan lamunanku. "Gak. Gak kenapa napa.", mataku tertuju pada buku dibawah pohon. Buku itu terbuka. Halamannya mulai terbuka satu persatu lalu berhenti.
Aku merangkak dan mengambil buku itu. Aku membukanya dari halaman awal dan kuhitung halamannya. Buku tadi berhenti di halaman 3 dan 13. Saat kubuka halaman 3, sesuatu yang tidak kuinginkan muncul. Kulempar buku itu ke tanah dan berlari meninggalkan tempat itu secepatnya.
Aku takut untuk melihat kebelakang. Kenapa? Kenapa halaman itu muncul lagi? Padahal waktunya masih ada 1 tahun lagi. Kenapa?
Esoknya, Yen menghampiriku. Dia bertanya apakah aku baik baik saja. Aku hanya mengangguk dan mengangkat kakiku dari kursi. "Lilithe? Kamu gak apa apa? Muka kamu pucat.", suara itu membuat hatiku berdetak kencang. "Cairys? Ah, tidak kok. Aku hanya sedang tidak enak badan.".
Cairys tersenyum, "Bagaimana kalau kita ke kantin saja? Ibu kantin baru saja mengeluarkan menu baru.". "Boleh. Tapi aku harus memberikan agenda kelas ini ke Bu.Ltolx terlebih dahulu.", "Baiklah, aku ikut." Ujarnya dan mulai berjalan ke arah ruang guru. Ah, aku menyesal aku tidak memilihmu.
Cairys tersenyum, "Bagaimana kalau kita ke kantin saja? Ibu kantin baru saja mengeluarkan menu baru.". "Boleh. Tapi aku harus memberikan agenda kelas ini ke Bu.Ltolx terlebih dahulu.", "Baiklah, aku ikut." Ujarnya dan mulai berjalan ke arah ruang guru. Ah, aku menyesal aku tidak memilihmu.
Dari kejauhan ada mata abu abu memperhatikanku. Mata itu menatapku dari kejauhan, mata penuh kebencian. Berharap bahwa semuanya akan berakhir dengan cepat. Berharap untuk kembali dan menyelesaikan tugasnya yang masih harus dikerjakan.
Bu.Ltolx menatap mataku dibalik kacamatanya. Matanya tajam seperti pisau daging. Dengan pelan dia meletakkan buku agenda diatas mejanya dan tersenyum. "Kerja bagus. Kau memang bisa diandalkan. Baiklah, sekarang kau boleh istirahat.". Aku berterima kasih dan pergi meninggalkan ruang guru.
Cairys sudah menunggu didepan ruang guru, dia tertawa kecil dan bertanya, "Bagaimana? Apakah sudah selesai? Dimarahi lagi tidak?". Aku tersenyum, "Tidak. Dia malah memujiku dan mengatakan bahwa aku bisa diandalkan." jawabku. Kami pun berbincang dan berjalan kearah kantin.
"Bu, pesan indomie ya satu.", "Kamu gak mau mesen menu baru? Aku kira kamu suka Tom Yum...". Aku menggeleng, " aku lebih suka Indomie daripada Tom Yum.". Cairys tertawa lalu dia memesan satu mangkok Tom Yum. "Baiklah, ayo kita cari tempat duduk kosong.". Kami pun mengobrol tentang banyak hal, mulai dari hal yang sedang populer sampai hal hal privasi. Menyenangkan sekali bisa menjadi lebih dekat dengan Cairys. Mungkin akan menjadi pilihan tepat jika dia yang aku pilih.
"Ekhem. Pacaran aja nih berdua~", Yen duduk di sebelah Cairys dan melakukan salam persahabatan mereka. Yaampun, ayolah. Baru saja aku bertukar informasi dengannya. Yen menatapku lalu tersenyum, dan senyuman polosnya itu terkadang membuatku tersipu. Walaupun aku tidak menyukainya, tetapi tidak ada orang yang tidak lemah pada senyumannya. Bahkan malaikat atau iblis sekalipun akan luluh hatinya.
Mereka berbincang dan melupakan kehadiranku. "Oh tuhan. Ayolah. Aku sudah selesai makan. Kalian nikmati waktu kalian.", aku berdiri dari kursi dan meninggalkan meja. "Lilithe. Lilithe tunggu!", aku menoleh. Yen."Ada apa?", dia menggenggam tanganku dan menyeludupkan sesuatu keatas tanganku. Dia tersenyum dan berjalan pergi. Kubuka genggamanku, ada segumpal kertas dan kubuka kertas itu. '999. Mangsa adalah segalanya. Kembali sebelum fajar. Merindukanmu di dalam ruangan ini. Mati. Mati. Mati.'.
Dia menemukanku.... Kenapa? Bagaimana caranya? Aku berlari meninggalkan kantin dan mencari tempat yang sangat sepi. Kemarin buku, sekarang kertas. Yen.... Apa mau orang itu? Bukan...apa mau iblis itu? Aku berlari ke arah pohon tua. Membuka kertas itu dan merebahkan punggungku ketubuh pohon tua yang tebal itu. Kuambil pisau kecil dikantungku dan mengiris jariku. Darahku jatuh tepat diatas halaman 13.
"Tottenshan ton popopo"
Abaikan.. Abaikan lilithe.. Suara itu hanya akan merebut kebahagiaanmu.
"Fu pye pa po hohohoho..."
"Ada apa? Kamu ingin pulang?". Aku menoleh ke atas. Nyanyian mengerikan tadi hilang, hanya ada sosok hitam menatapku. Matanya merah menyala, seperti bisa membakarku hidup hidup. "Waktuku masih lama bukan? Tapi kenapa teror ini sudah datang?", dia menyeringai, mengerikan. "Boogie boogie dio tetta tetta wa na..." lalu sosoknya menghilang. Aku berlari sekencang kencangnya. Aku harus cepat... Kuayunkan kakiku lebih cepat dan membuka pintu rumah. Oh tidak.. Semuanya kembali seperti semula... Bagaimana bisa?
"Mangsa. Kasihku, mangsa. Mangsa untukmu. Untukku. Dan untuknya yang agung.".
Dengan sigap kuambil pisau daging di dapur dan berlari ke sekolah. Cairys sedang duduk di bawah pohon. Dengan nafas tersengal, aku mengayunkan pisau itu ke kepalanya, dan dengan sigap, tangan panjangnya menahan tanganku. "Kau jadikan aku mangsamu? Bagaimana jika..." dia mendekatkan wajahnya dan berbisik, "...kau saja yang jadi mangsaku?" . Tangannya menggenggam ranting kayu yang sangat tajam, mencoba membunuhku.
Matanya merah, merah menyala. Aku tersenyum, "Karena kau pilihanku. Mangsa yang baik.. dan suci jiwanya. Jadi... Pilihanku ternyata tidak jelek juga...". Kami mencoba membunuh satu sama lain, menebas kepala, menusuk jantung dan menggorok leher. Aku kecewa.. Dia menusuk jantungku, tapi aku bahagia karena aku berhasil menusuk nadi tangannya. Aku menutup mata, makin gelap. Suasana makin gelap. Burung gagak bernyanyi, memanggil para kawanannya. Dan menyantap makan malam mereka.
Aku terbangun di sebuah ruangan berwarna putih. Disampingku ada Cairys, sedang menatap kosong pintu di hadapannya. Aku pun ikut menatap pintu, menunggu giliran untuk dipanggil. Untuk dibawa ke dunia abadi, walau seribu tahun lamanya. Alih alih memperpanjang permintaanku, aku malah memilih Cairys untuk menjadi tumbal sekaligus mangsaku. Karena hanya jiwa suci lah yang diinginkan para Iblis. Tetapi aku salah, karena Cairys-lah, yang menyeretku. Maksudku, akulah yang menyeretnya.
Tetapi tidak lagi. Karena semua orang yang memberikan nyawa mereka agar dikabulkan permintaannya akan menjadi sosok yang kotor dimata malaikat maupun iblis. Jiwanya rendahan, nyawanya tak pantas untuk diterima di surga ataupun neraka.
Yen menatap mereka berdua dari atas, dan menggenggam nyawa mereka berdua. Sungguh kedua anak lelaki yang tidak tahu bagaimana caranya berjuang untuk sesuatu yang mereka inginkan. Yen menyeringai, kembali duduk dikursi besarnya. Melihat para jiwa yang tersesat di kegelapan, dan memperbolehkan mereka masuk. Memperkenalkan buku-nya pada para tawanan neraka serta surga, buku penuh harapan, buku 999. Buku 666.
"Syriac! Lihat ini, aku menemukan buku yang sedikit aneh.". Syriac memperhatikan buku itu. "Buku jaman dahulu kah?". Dengan penasaran, kedua anak laki laki itu membuka buku itu. Membuka halaman satu persatu. Di halaman 3 dan 13 mereka menemukan angka 999. Ditulis dengan darah yang sudah mengering. "999? Apa arti angka itu?". Lilithe menggeleng."Tidak tahu. Coba kita balik? Jadi 666!". "Memang 666 artinya itu apa?".
Mereka menatap satu sama lain
"Angka malaikat!", puas dengan jawaban satu sama lain, mereka melihat secarik kertas '999. Mangsa adalah segalanya. Kembali sebelum fajar. Merindukanmu di dalam ruangan ini. Mati. Mati. Mati. Berikan darahmu untuk keinginan yang tak kau duga. Berikan tulang untuk mengabulkan keinginan kecilmu. Berikan organmu untuk keinginan yang besar. Berikan nyawa, dan semua permintaanmu akan dikabulkan. 666 : keberuntungan, sesuatu yang tidak sempurna. Lihat kebelakang, ke kiri, ke kanan, dan ke depan, lalu keatas. Lihatlah aku.'
"Apa kau serius ini nomor malaikat? Seram lho..". Lilithe tersenyum, "Bagaimana kalau kita mencobanya Syriac? Karena aku butuh kehidupan yang normal. Kau juga kan? Coba kau bayangkan, jika mata kita bisa melihat, dan mulut kita tidak bisu, kita pasti akan bahagia!" ujarnya. "Tapi... Kita harus menyalurkan apa?"
"Ayo kita berikan nyawa kita. Karena memberikan hal yang berharga, akan menciptakan sesuatu yang sangat indah dan membuat kita bahagia!"
Dari belakang kulihat mereka, dan berbisik, "Tetapi kau akan mendapatkan sesuatu yang pahit juga jika kau memberikan sesuatu yang benar benar berharga. Baiklah, nyawa kalian, sudah ditanganku. Penjaga dan hakim di neraka, Yen-lo-wang. Sekaligus wanita, pencipta buku 999, ah bukan...tetapi, 666".
Aku berjalan mendekati mereka, mereka melihat kebelakang dan kaget karena keberadaanku. "Nyawa? Baiklah, kalian kuberi 13 tahun, 3 hari, di 1999 nanti." Nyawa mereka akan kuserahkan, untuk mengabulkan permohonan mereka dan mengayunkan sabitku ke leher mereka.
Beberapa hari kemudian, berita tentang dua anak laki laki meninggal secara misterius tersebar.
Lilithe Moloch, dan Syriac Moloch.
Pada zaman dahulu saat harimau masih merokok, ada seorang wanita tua yang menciptakan sebuah buku. Buku itu bisa mengabulkan permintaanmu. Tetapi permintaan itu akan dikabulkan jika kau memberikan salah satu bagian dari tubuhmu. Bisa jadi, daging, tulang, darah, organ tubuh...ataupun nyawamu...
Jika kau telah masuk ke dunia yang kamu inginkan, dan waktumu akan segera habis, bunuhlah seseorang yang mempunyai jiwa suci. Kau boleh simpan jantungnya, biarkan otaknya membusuk, dan berikan nyawa serta jiwanya padaku. Karena hanya dengan itulah, keinginanmu akan terkabulkan.
Jangan lupa...
Lihat ke kirimu.. cari di kanan..bawah tempat tidur, di belakang lemari, cari aku di dalam lemari, lalu lihatlah keatas. Beritahu aku apa yang kau lihat. Menyenangkan bukan, bermain denganku? Xlotl, Lilithe, Syriac, Moloch, dan Yen-lo-Wang telah menemukanmu. Sekarang, kamulah yang harus mencari mereka.
Nama yang diberikan oleh para orang tua yang tidak bertanggung jawab, dan memberikan nama iblis pada mereka. Membuat mereka melakukan yang seharusnya tidak mereka lakukan, mempertaruhkan nyawa mereka untuk seluruh keinginan mereka. Manusia bodoh. Semua manusia sama sama berusaha, tetapi masih banyak disana yang bodoh, meminta orang pintar, berdoa pada syaitan, bahkan syirik, karena mencapai keinginan mereka tanpa usaha, dan menginginkannya dengan satu kedipan mata. Memangnya kalian pikir, kami tidak muak?
"Ekhem. Pacaran aja nih berdua~", Yen duduk di sebelah Cairys dan melakukan salam persahabatan mereka. Yaampun, ayolah. Baru saja aku bertukar informasi dengannya. Yen menatapku lalu tersenyum, dan senyuman polosnya itu terkadang membuatku tersipu. Walaupun aku tidak menyukainya, tetapi tidak ada orang yang tidak lemah pada senyumannya. Bahkan malaikat atau iblis sekalipun akan luluh hatinya.
Mereka berbincang dan melupakan kehadiranku. "Oh tuhan. Ayolah. Aku sudah selesai makan. Kalian nikmati waktu kalian.", aku berdiri dari kursi dan meninggalkan meja. "Lilithe. Lilithe tunggu!", aku menoleh. Yen."Ada apa?", dia menggenggam tanganku dan menyeludupkan sesuatu keatas tanganku. Dia tersenyum dan berjalan pergi. Kubuka genggamanku, ada segumpal kertas dan kubuka kertas itu. '999. Mangsa adalah segalanya. Kembali sebelum fajar. Merindukanmu di dalam ruangan ini. Mati. Mati. Mati.'.
Dia menemukanku.... Kenapa? Bagaimana caranya? Aku berlari meninggalkan kantin dan mencari tempat yang sangat sepi. Kemarin buku, sekarang kertas. Yen.... Apa mau orang itu? Bukan...apa mau iblis itu? Aku berlari ke arah pohon tua. Membuka kertas itu dan merebahkan punggungku ketubuh pohon tua yang tebal itu. Kuambil pisau kecil dikantungku dan mengiris jariku. Darahku jatuh tepat diatas halaman 13.
"Tottenshan ton popopo"
Abaikan.. Abaikan lilithe.. Suara itu hanya akan merebut kebahagiaanmu.
"Fu pye pa po hohohoho..."
"Ada apa? Kamu ingin pulang?". Aku menoleh ke atas. Nyanyian mengerikan tadi hilang, hanya ada sosok hitam menatapku. Matanya merah menyala, seperti bisa membakarku hidup hidup. "Waktuku masih lama bukan? Tapi kenapa teror ini sudah datang?", dia menyeringai, mengerikan. "Boogie boogie dio tetta tetta wa na..." lalu sosoknya menghilang. Aku berlari sekencang kencangnya. Aku harus cepat... Kuayunkan kakiku lebih cepat dan membuka pintu rumah. Oh tidak.. Semuanya kembali seperti semula... Bagaimana bisa?
"Mangsa. Kasihku, mangsa. Mangsa untukmu. Untukku. Dan untuknya yang agung.".
Dengan sigap kuambil pisau daging di dapur dan berlari ke sekolah. Cairys sedang duduk di bawah pohon. Dengan nafas tersengal, aku mengayunkan pisau itu ke kepalanya, dan dengan sigap, tangan panjangnya menahan tanganku. "Kau jadikan aku mangsamu? Bagaimana jika..." dia mendekatkan wajahnya dan berbisik, "...kau saja yang jadi mangsaku?" . Tangannya menggenggam ranting kayu yang sangat tajam, mencoba membunuhku.
Matanya merah, merah menyala. Aku tersenyum, "Karena kau pilihanku. Mangsa yang baik.. dan suci jiwanya. Jadi... Pilihanku ternyata tidak jelek juga...". Kami mencoba membunuh satu sama lain, menebas kepala, menusuk jantung dan menggorok leher. Aku kecewa.. Dia menusuk jantungku, tapi aku bahagia karena aku berhasil menusuk nadi tangannya. Aku menutup mata, makin gelap. Suasana makin gelap. Burung gagak bernyanyi, memanggil para kawanannya. Dan menyantap makan malam mereka.
Aku terbangun di sebuah ruangan berwarna putih. Disampingku ada Cairys, sedang menatap kosong pintu di hadapannya. Aku pun ikut menatap pintu, menunggu giliran untuk dipanggil. Untuk dibawa ke dunia abadi, walau seribu tahun lamanya. Alih alih memperpanjang permintaanku, aku malah memilih Cairys untuk menjadi tumbal sekaligus mangsaku. Karena hanya jiwa suci lah yang diinginkan para Iblis. Tetapi aku salah, karena Cairys-lah, yang menyeretku. Maksudku, akulah yang menyeretnya.
Tetapi tidak lagi. Karena semua orang yang memberikan nyawa mereka agar dikabulkan permintaannya akan menjadi sosok yang kotor dimata malaikat maupun iblis. Jiwanya rendahan, nyawanya tak pantas untuk diterima di surga ataupun neraka.
Yen menatap mereka berdua dari atas, dan menggenggam nyawa mereka berdua. Sungguh kedua anak lelaki yang tidak tahu bagaimana caranya berjuang untuk sesuatu yang mereka inginkan. Yen menyeringai, kembali duduk dikursi besarnya. Melihat para jiwa yang tersesat di kegelapan, dan memperbolehkan mereka masuk. Memperkenalkan buku-nya pada para tawanan neraka serta surga, buku penuh harapan, buku 999. Buku 666.
"Syriac! Lihat ini, aku menemukan buku yang sedikit aneh.". Syriac memperhatikan buku itu. "Buku jaman dahulu kah?". Dengan penasaran, kedua anak laki laki itu membuka buku itu. Membuka halaman satu persatu. Di halaman 3 dan 13 mereka menemukan angka 999. Ditulis dengan darah yang sudah mengering. "999? Apa arti angka itu?". Lilithe menggeleng."Tidak tahu. Coba kita balik? Jadi 666!". "Memang 666 artinya itu apa?".
Mereka menatap satu sama lain
"Angka malaikat!", puas dengan jawaban satu sama lain, mereka melihat secarik kertas '999. Mangsa adalah segalanya. Kembali sebelum fajar. Merindukanmu di dalam ruangan ini. Mati. Mati. Mati. Berikan darahmu untuk keinginan yang tak kau duga. Berikan tulang untuk mengabulkan keinginan kecilmu. Berikan organmu untuk keinginan yang besar. Berikan nyawa, dan semua permintaanmu akan dikabulkan. 666 : keberuntungan, sesuatu yang tidak sempurna. Lihat kebelakang, ke kiri, ke kanan, dan ke depan, lalu keatas. Lihatlah aku.'
"Apa kau serius ini nomor malaikat? Seram lho..". Lilithe tersenyum, "Bagaimana kalau kita mencobanya Syriac? Karena aku butuh kehidupan yang normal. Kau juga kan? Coba kau bayangkan, jika mata kita bisa melihat, dan mulut kita tidak bisu, kita pasti akan bahagia!" ujarnya. "Tapi... Kita harus menyalurkan apa?"
"Ayo kita berikan nyawa kita. Karena memberikan hal yang berharga, akan menciptakan sesuatu yang sangat indah dan membuat kita bahagia!"
Dari belakang kulihat mereka, dan berbisik, "Tetapi kau akan mendapatkan sesuatu yang pahit juga jika kau memberikan sesuatu yang benar benar berharga. Baiklah, nyawa kalian, sudah ditanganku. Penjaga dan hakim di neraka, Yen-lo-wang. Sekaligus wanita, pencipta buku 999, ah bukan...tetapi, 666".
Aku berjalan mendekati mereka, mereka melihat kebelakang dan kaget karena keberadaanku. "Nyawa? Baiklah, kalian kuberi 13 tahun, 3 hari, di 1999 nanti." Nyawa mereka akan kuserahkan, untuk mengabulkan permohonan mereka dan mengayunkan sabitku ke leher mereka.
Beberapa hari kemudian, berita tentang dua anak laki laki meninggal secara misterius tersebar.
Lilithe Moloch, dan Syriac Moloch.
Pada zaman dahulu saat harimau masih merokok, ada seorang wanita tua yang menciptakan sebuah buku. Buku itu bisa mengabulkan permintaanmu. Tetapi permintaan itu akan dikabulkan jika kau memberikan salah satu bagian dari tubuhmu. Bisa jadi, daging, tulang, darah, organ tubuh...ataupun nyawamu...
Jika kau telah masuk ke dunia yang kamu inginkan, dan waktumu akan segera habis, bunuhlah seseorang yang mempunyai jiwa suci. Kau boleh simpan jantungnya, biarkan otaknya membusuk, dan berikan nyawa serta jiwanya padaku. Karena hanya dengan itulah, keinginanmu akan terkabulkan.
Jangan lupa...
Lihat ke kirimu.. cari di kanan..bawah tempat tidur, di belakang lemari, cari aku di dalam lemari, lalu lihatlah keatas. Beritahu aku apa yang kau lihat. Menyenangkan bukan, bermain denganku? Xlotl, Lilithe, Syriac, Moloch, dan Yen-lo-Wang telah menemukanmu. Sekarang, kamulah yang harus mencari mereka.
Nama yang diberikan oleh para orang tua yang tidak bertanggung jawab, dan memberikan nama iblis pada mereka. Membuat mereka melakukan yang seharusnya tidak mereka lakukan, mempertaruhkan nyawa mereka untuk seluruh keinginan mereka. Manusia bodoh. Semua manusia sama sama berusaha, tetapi masih banyak disana yang bodoh, meminta orang pintar, berdoa pada syaitan, bahkan syirik, karena mencapai keinginan mereka tanpa usaha, dan menginginkannya dengan satu kedipan mata. Memangnya kalian pikir, kami tidak muak?
Comments
Post a Comment